Berita Terkini tanpa Kebohongan

Asal Usul Istilah Tasyrik

3 min read
HEWAN KURBAN

By Zahra

Idul Adha sudah berlalu. Setelah Hari Raya Idul Adha, umat Muslim dilarang untuk menjalankan ibadah puasa di hari-hari Tasyrik.

Hari Tasyrik adalah hari-hari setelah Idul Adha. Allah telah menetapkan hari tersebut sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 203:

وَاذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِيْ يَوْمَيْنِ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۚوَمَنْ تَاَخَّرَ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِۙ لِمَنِ اتَّقٰىۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya. Barangsiapa mempercepat (meninggalkan Mina) setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan barangsiapa mengakhirkannya tidak ada dosa (pula) baginya, (yakni) bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan-Nya.”’

Hari Tasyrik meliputi tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Jadi, begitu usai perayaan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah, umat Islam langsung menghadapi hari Tasyrik tersebut.

Lalu, mengapa disebut hari Tasyrik? Alasan disebut hari Tasyrik ini terkait dengan cara atau kebiasaan masyarakat pada zaman dahulu dalam mengawetkan daging kurban. Sebelum ditemukan sistem pendingin, para peziarah biasa mengiris daging yang mereka peroleh dari udhiyah atau hewan kurban, kemudian membumbuinya dengan garam.

Setelah memberikan garam, mereka lalu membiarkannya terkena panas atau terik matahari. Gampangnya, daging yang sudah digarami itu dijemuar di bawah sinar matahari. Nah, ini merupakan cara pengawetan makanan tradisional.

Dengan kondisi tersebut, memungkinkan para peziarah mengawetkannya dan membawanya saat perjalanan panjang karena menempuh jarak yang jauh. Proses itu disebut “Tasyrik“, berasal dari kata bahasa Arab yang berarti matahari terbit atau sinar matahari. Dalam proses itu memerlukan paparan daging di bawah sinar matahari untuk waktu lama.

Walaupun sebagian besar peziarah tidak mempraktikkannya lagi, masih ada beberapa peziarah yang ternyata melakukan. Di kamp-kamp Mina, misalnya, terlihat daging dendeng yang digantung di berbagai tempat di sisi tenda mereka.

 Amalan hari Tasyrik

Pada hari Tasyrik, para jamaah yang menunaikan haji sedang berada di Mina untuk melempar jumrah. Bagi yang tidak menunaikan ibadah berhaji, hari Tasyrik menjadi waktu larangan berpuasa.

Muslim yang tidak berhaji, sangat dianjurkan untuk berkurban atau menyembelih hewan kurban. Waktu penyembelihan dilaksanakan setelah shalat Idul Adha hingga hari Tasyrik terakhir, yaitu 13 Dzulhijjah, sebelum waktu Maghrib.

Menilik pada kalender Masehi, maka hari Tasyrik terakhir adalah Jumat, tanggal 23 Juli 2021. Lalu, amalan apa saja yang sangat disarankan untuk dikerjakan?

1. Menyembelih Hewan Kurban

Umat Islam dianjurkan atau disunahkan untuk menyembelih hewan kurban, terutama bagi yang mampu. Dengan berkurban, mereka bisa berbagi kenikmatan kepada orang-orang di sekitarnya berupa hidangan istimewa dari hewan sembelihan.

2. Menikmati Hidangan Makan dan Minum

Setiap Muslim diwajibkan menikmati makan dan minum ketika memasuki hari Tasyrik. Makan dan minum ini menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Hari-hari Tasyrik adalah hari menikmati makanan dan minuman.”

Karena hari tasyrik merupakan hari makan dan minum, maka diharamkan berpuasa. Dari riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah mengutus Abdullah bin Hudzaifah untuk mengelilingi Kota Mina dan menyampaikan, “Janganlah kamu berpuasa pada hari ini (Tasyrik) karena ia merupakan hari makan, minum, dan berzikir pada Allah.”

3. Memperbanyak Zikir kepada Allah

Dalam Islam, zikir adalah amalan ringan yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Zikir merupakan cara manusia untuk selalu mengingat Allah. Saat hari Tasyrik, zikir dilantunkan dengan bertakbiran, membaca tasmiyah (bismillah, dan takbir saat memotong hewan kurban. Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda:

“Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan banyak mengingat Allah,” (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i)

4. Memperbanyak Doa

Jelas memperbanyak doa pada hari Tasyrik karena setiap doa dan permohonan ampunan akan dikabulkan oleh Allah. Contohnya doa yang dapat dipanjatkan adalah doa sapu jagat untuk memohon keselamatan dunia dan akhirat.

“Rabbana, atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina adzaban naar.”

Artinya: “Ya Allah, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Dan jagalah kami dari siksa api neraka.”

5. Memperbanyak Bersyukur

Apapun yang telah diberikan Allah, itu adalah karunia, baik yang sifatnya kesehatan maupun kekayaan. Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”

Sebagai umat Islam, tentu kita perlu dan wajib mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Apalagi, kita bisa menikmati hari raya.

Itulah beberapa amalan dan keutamaan yang dianjurkan dikerjakan pada hari Tasyrik. Selain diberi kemurahan Allah untuk tidak berpuasa dan menikmati berbagai makanan daging kurban, alangkah baiknya setiap Muslim tetap berzikir, berdoa, dan bersedekah di hari Tasyrik ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.