by

Batu Bara Belum Tergantikan

-Listrik-3 Views

Begitulah bila emisi terlepas ke atmosfer. Molekul dan senyawa yang terbuang akan mengotori udara. Pada taraf tertentu, akhirnya bisa merusak ozon, sebuah lapisan yang diyakini justru bisa melindungi kehidupan manusia dan makhluk-makhluk lainnya.

Bagaimana sesungguhnya penggunaan energi, termasuk energi listrik saat ini? Apakah bahan bakar fosil masih mengambil peran besar? Lalu, seperti apa perkembangan bauran energi listriknya?

Bauran energi yang makin hijau, termasuk bauran energi listrik, tentu menjadi keinginan semua pihak. Namun, harapan dunia mampu mengurangi emisi gas karbon sepertinya belum terwujud. Tercatat hingga kini saat ini energi listrik masih dominan bersumber dari batu bara.

Tercatat 36,7 persen listrik di seluruh dunia disumbang dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Gas hanya menempati urutan kedua sebagai kontributor energi listrik dengan porsi sebesar 23,5 persen.

Penyumbang ketiga terbesar untuk memproduksi listrik berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA), mengambil bagian sebesar 15,8 persen. Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) menjadi sumber energi keempat terbesar dalam memproduksi listrik global, menyumbang 10,4 persen.

Pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB) hanya menyumbang 5,3 persen atau kontributor kelima bagi listrik global. Beruntung sumber pembangkit listrik dari minyak mengecil dengan angka kontribusi 3,1%.

Baca juga  Best Electric Cars of 2021 and 2022

Ternyata pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) juga masih kecil perannya. Secara keseluruhan sumbangannya baru mencapai 2,7%. Sementara, sumber listrik dari energi terbarukan lainnya mencapai 2,5 persen.

Turun sementara saat pandemi
Executive Director International Energy Agency (IEA) Dr Fatih Birol mengungkapkan, pandemi Covid-19 yang melanda seluruh negara ternyata membawa dampak pada penggunaan energi listrik. Pemberlakuan lockdown atau penghentian aktivitas di banyak wilayah telah secara signifikan mengurangi permintaan listrik. Tentu saja imbas berikutnya adalah memengaruhi bauran energi listrik.

Pandemi juga memunculkan karakteristik baru antara konsumsi listrik rumah tangga dan industri atau komersial. Dengan aktivitas yang terbatas di luar karena lockdown, justru meningkatkan permintaan energi listrik perumahan. Permintaan listrik kelompok residensial ini bahkan bisa sebanding dan ada yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengurangan energi listrik pada operasi komersial dan industri.

Data harian yang dikumpulkan IEA dan bersumber lebih dari 30 negara, mewakili lebih dari sepertiga permintaan listrik global, menunjukkan bahwa tingkat penurunan permintaan tergantung pada durasi dan ketatnya penguncian (lockdown) tersebut. “Rata-rata kami menemukan bahwa setiap bulan penguncian penuh mengurangi permintaan rata-rata 20%, atau lebih dari 1,5% setiap tahun,” ungkap Birol, seperti dilaporkan dalam laman resmi IEA, beberapa waktu lalu.

Baca juga  SP Group Uji Teknologi untuk Dorong Energi Baterai Kendaraan ke Jaringan Listrik

Pengurangan permintaan telah mengangkat bagian energi terbarukan dalam pasokan listrik, karena outputnya sebagian besar tidak terpengaruh permintaan. Permintaan turun untuk semua sumber listrik lainnya, termasuk batu bara, gas, dan tenaga nuklir. “Dalam proyeksi kami untuk tahun 2020, permintaan listrik global akan turun 5%, dengan pengurangan 10% di beberapa wilayah,” kata Birol.

Sumber energi rendah karbon akan jauh melampaui pembangkit listrik tenaga batu bara secara global, memperpanjang keunggulan yang ditetapkan pada 2019. Pemulihan ekonomi berbentuk V yang lebih cepat akan mengurangi dampak pada permintaan listrik hingga setengahnya, yang mengarah ke penurunan batu bara tahun ke tahun yang lebih kecil, gas, dan tenaga nuklir. Tetapi lockdown yang lebih lama, pemulihan ekonomi yang lebih lambat, dan penyebaran luas Covid-19 di negara-negara berkembang dapat mengurangi permintaan lebih jauh.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed