by

Batu Bara Belum Tergantikan

-Listrik-2 Views

Chief Executive Officer BP Bernard Looney menuturkan, pandemi telah membawa penderitaan hebat bagi banyak penduduk bumi. Namun, ada sinyal positif akibat pandemi ini dalam sektor energi.

Looney mengamati ada beberapa aspek positif yang muncul karena imbas pandemi. Dia merujuk pada pertumbuhan energi terbarukan yang terus berlanjut. Dipimpin oleh tenaga angin dan matahari, energi terbarukan meningkat dengan jumlah rekor baru. Pada 2019 saja, tercatat energi terbarukan ini menyumbang lebih dari 40% dari pertumbuhan energi primer. Harapannya, pada 2020 dan tahun-tahun berikutnya akan lebih tinggi lagi.

Pada saat yang sama, konsumsi batu bara turun untuk keempat kalinya dalam enam tahun terakhir. Pangsa batu bara dalam bauran energi global juga jatuh ke level terendah selama 16 tahun terakhir.

Namun, aspek lain dari sistem energi terus menimbulkan kekhawatiran. Meskipun mengalami penurunan, batu bara masih menjadi sumber pembangkit listrik terbesar, menyumbang lebih dari 36% dari daya listrik global.

Baca juga  Tiga PLTU PLN Raih ASEAN Coal Awards 2021

Menurut Looney, total dari gabungan energi terbarukan hanya menyumbang 10 persen pada produksi energi listrik di level internasional. “Energi terbarukan perlu tumbuh lebih kuat selama tiga dekade ke depan untuk mendekarbonisasi sektor listrik,” ungkap dia, seperti juga termuat dalam laporan BP Statistical Review of World Energy 2020, beberapa waktu lalu.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah tren emisi karbon. Perlambatan pertumbuhan emisi karbon menjadi 0,5% pada 2019 mungkin menunjukkan beberapa alasan tetap optimistis. Namun, perlambatan ini perlu dilihat dalam konteks peningkatan besar emisi karbon pada 2018 sebesar 2,1%. Harapannya adalah ketika terjadi penurunan emisi karbon pada 2018, emisi karbon akan turun secara signifikan pada tahun-tahun selanjutnya.

Namun, harapan itu tak terwujud. Pertumbuhan tahunan rata-rata emisi karbon selama 2018 dan 2019 justru lebih besar dari rata-rata 10 tahun terakhir. Ketika muncul krisis Covid-19, dunia seharusnya perlu membuat perubahan yang signifikan untuk bergerak ke jalur yang lebih berkelanjutan.

Baca juga  Best Electric Cars of 2021 and 2022

Efek pengurangan emisi karbon, menurut Looney, terlihat ketika negara melakukan lockdown. Gambarannya sederhana. Aktivitas pabrik dan industri berkurang. Merekalah pengguna energi listrik terbesar selama ini. Padahal, energi listrik mayoritas masih bersumber dari energi tidak terbarukan atau dari basis fosil.

Ada perubahan kualitas udara di banyak kota yang paling tercemar di dunia. “Langit tampak menjadi lebih cerah,” ujar Looney.

Logikanya memang sederhana. Ketika aktivitas pabrik dan industri berhenti, atau kegiatan manufaktur berkurang, tentu saja tak ada penggunaan energi listrik dan energi lainnya, atau penggunaan energi listrik menurun. Produksi energi listrik dari PLTU pun berkurang karena permintaan industri, bisnis, dan pabrik juga merosot drastis. Ini baru dari konteks energi listrik.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed