by

Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana

-Umum-428 Views

By Zahra Amanda

JAKARTA – Bonus demografi bisa mendatangkan keuntungan yang dahysat. Tetapi pada saat yang sama juga bisa menjadi sumber masalah.

Karena itulah, Indonesia harus bisa mengelola bonus ini dengan baik. Penerapan konsep harm reduction atau pengurangan bahaya dinilai penting untuk mengantisipasi potensi efek negatif bonus demografi, khususnya di bidang lingkungan. Sebab, jika tidak mengimplementasikan konsep ini, maka bonus demografi akan menciptakan degradasi lingkungan.

Menurut Direktur Eksekutif Center for Youth and Population Research (CYPR) Dedek Prayudi, Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada 2024 mendatang. Jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta orang, yang mana 70 persen di antaranya berada di usia produktif (15-60 tahun) dan sebagian besar penduduk usia produktif tersebut adalah kelompok pemuda berusia 16-30 tahun.

Baca juga  Jubir Satgas Positif Terjangkit COVID-19

Jumlah penduduk usia kerja dua kali lebih besar dibanding jumlah penduduk usia non-kerja. “Bonus demografi itu seperti pisau bermata dua. Yang pertama jendela peluang, yang kedua bencana,” ujar Dedek, Rabu (23/6/2021). Menurut Uki, bonus demografi berpotensi menciptakan bencana bagi lingkungan karena adanya peningkatan aktivitas manusia, baik ekonomi, sosial, maupun politik.

Baca juga  Hong Kong Masukkan Indonesia sebagai Negara Risiko Tinggi Covid-19

“Itu semua dalam prosesnya mengeksploitasi alam ataupun limbahnya merusak alam,” jelasnya. Contohnya pemanfaatan pembangkit listrik batu bara, kebakaran hutan, penggunaan kendaraan pribadi, sampah puntung rokok, dan sampah rumah tangga.

Di DKI Jakarta, per harinya menghasilkan 7.500 ton sampah yang dikirim ke Bantar Gebang. “Limbah sampah belum terdaur ulang dengan baik. Ini yang saya maksud bahwa aktivitas ekonomi, sosial, dan politik menghasilkan degradasi lingkungan,” tuturnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *