by

Jokowi Yakin Pabrik Pengolahan Batu Bara Bisa Hemat APBN Rp150 Triliun

-Ekobis-442 Views

By Zahra

SELISIK.COM – Pemerintah ingin pemanfaatan kekayaan alam di Indonesia secara optimal. Selama ini, banyak komoditas yang dijual ke luar negeri tanpa diolah menjadi produk derivatif sehingga tak menghasilkan nilai tambah.

Karena alasan itulah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun ingin Indonesia bisa memanfaatkan batu bara menjadi komoditas yang bernilai tambah. Jokowi menuturkan, pembangunan pabrik pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME) bakal membantu mengurangi beban impor sekaligus subsidi liquefied petroleum gas (LPG) hingga Rp150 triliun.

Berdasarkan data yang dimiliki, Jokowi menilai setiap tahun Indonesia harus membuang dana hingga Rp80 triliun hanya untuk mengimpor LPG. Yang juga menyedihkan, negara ternyata harus menguras APBN hingga Rp70 triliun lagi hanya untuk memberikan subsidi harga beli di tingkat masyarakat.

Baca juga  Pupuk Kaltim Ekspor Lebih dari 327 Ribu Metrik Ton Amoniak

Karena itulah, Presiden sangat ingin pembangunan pabrik pengolahan batu bara menjadi DME yang bisa menjadi komoditas substitusi LPG di Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. Dia ingin proses pembangunannya berjalan lancar, bahkan bisa lebih cepat lagi.

Jokowi menjamin negara bisa menghemat anggaran hingga triliunan rupiah bila proyek tersebut selesai. “Kalau penggunaan LPG nanti dihentikan dan semua pindah ke DME, duitnya besar sekali. Ada Rp60 triliun-Rp70 triliun subsidi itu akan bisa dikurangi dari APBN,” jelas Jokowi saat melakukan groundbreaking pabrik pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME) yang terletak di Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, Senin (24/1/2022).

Baca juga  Perundingan IUAE-CEPA, Mendag Optimistis Bakal Gairahkan Pasar Ekspor

Demi mewujudkan proyek tersebut, Jokowi mengaku sudah meminta Menteri Investasi dan para pejabat pemerintah terkait lainnya agar terus mengawasi dan mengontrol proyek pembangunan yang dilakukan oleh Air Products, perusahaan asal Amerika Serikat, supaya selesai tepat waktu. “Kalau tadi disampaikan 30 bulan, jangan ada mundur-mundur lagi. Kita harapkan nanti setelah di sini selesai, dimulai lagi di tempat lain karena ini hanya bisa menyuplai Sumatra Selatan dan sekitarnya,” katanya.

Proyek tersebut memang sempat tertunda. Setelah enam tahun mengeluarkan instruksi, baru kali ini Presiden bisa menyaksikan dan meresmikan pembangunan pabrik pengolahan batu bara ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *