Berita Terkini tanpa Kebohongan

Kedelai Langka, Teknologi IPB University Bisa Jadi Solusi

2 min read
kedelai langka, teknologi IPB University, bahan baku tempe dan tahu, kedelai impor, produsen tahu dan tempe, swasembada pertanian, swasembada kedelai, IPB University, teknologi budidaya kedelai, teknologi budidaya jenuh air, Munif Ghulamahdi

Profesor Munif Ghulamahdi, inovator dari IPB University (Source: IPB).

By Nanda

SELISIK.COM – Kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu di Tanah Air banyak yang disediakan dari impor. Ini menyebabkan produsen tahu dan tempe menjerit tatkala harga kedelai di pasar dunia melangit.

Mengapa Indonesia masih sangat tergantung pada kedelai impor? Bukankah seharusnya kita bisa swasembada untuk komoditas ini?

IPB University berhasil menemukan teknologi budidaya kedelai yang cocok ditanam di lahan pasang surut. Teknologi tersebut berupa teknologi budidaya jenuh air (BJA) kedelai.

Profesor Munif Ghulamahdi, inovator dari IPB University, menjelaskan bahwa BJA adalah sistem penanaman kedelai dengan memberikan irigasi secara terus menerus dan membuat muka air tetap. Hal ini menyebabkan lapisan di bawah perakaran mengalami jenuh air.

Dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura ini telah membuktikan bahwa teknologi BJA dapat meminimalisasi sifat negatif dari lahan pasang surut. Dengan demikian, teknologi BJA layak dikembangkan untuk perluasan areal tanam kedelai.

“Dalam mendukung teknologi BJA, diperlukan adanya tata kelola kawasan produksi BJA serta menjamin tersedianya benih unggul dan sarana produksi lainnya,” terang Prof Munif.  Ia menambahkan, benih kedelai unggul yang digunakan potensi produktivitasnya dapat mencapai 4,63 ton per hektar di penelitian. Kegiatan BJA selanjutnya diterapkan pada lahan petani pada areal 500 ha di tipe luapan C pada lahan pasang surut dan diperoleh 2.6 ton per hektare. Produktivitas nasional hanya 1,5 ton per ha. Teknologi ini telah terapkan di Jambi, Palembang dan Lampung.

Pada tahun 2021, produksi kedelai nasional di lahan non pasang surut sekitar 200 ribu ton dengan konsumsi nasional sebesar 2.6 juta ton. Kekurangan sebesar 2.4 juta ton dapat dipenuhi dengan menggarap lahan pasang surut pada areal tanam 1,0 juta hektare. Sementara, luas lahan pasang surut di Indonesia adalah sebesar 20 juta hektare.

“Apabila 5 persen saja dari lahan pasang surut tersebut dimanfaatkan untuk budidaya kedelai, diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan nasional. Jika kebutuhan benih sekitar 50 kg per hektare perlu penyediaan benih sebesar 50 000 ton,” jelas Munif, seperti dilansir laman IPB.

Jika pemerintah mau serius untuk memanfaatkan teknologi temuan anak bangsa ini, niscaya swasembada kedelai bisa diwujudkan. Untuk itu perlu langkah-langkah konkret untuk mengimplementasikan berbagai teknologi temuan para akademisi dan peneliti, salah satunya teknologi BJA ini  untuk membebaskan Indonesia dari problem kelangkaan kedelai yang terus berulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.