by

Mengharap Dekarbonisasi Terealisasi

-Terbarukan-580 Views

By Hadi

Semangat menuju perubahan iklim yang lebih baik sering dikumandangkan oleh para pemimpin dunia. Para presiden menyatakan siap melakukan transisi energi dari berbasis fosil ke energi terbarukan.

Tentu saja ini iktikad dan semangat yang baik. Apalagi, atmosfer global memang sudah terlalu panas karena terus mendapat tambahan emisi karbon dan jenis polutan lainnya.

Pada UN Climate Change Conference of the Parties (COP26) yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 12 November 2021 Glasgow, Skotlandia, mereka kembali menyuarakan hal yang sama. Media massa pun serentak mengungkap isu yang sama tentang rencana mengubah iklim yang lebih baik pada masa depan.

Bahkan, pada KTT Iklim tersebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menjadi pembicara dan memberikan beberapa tawaran solusi. Jokowi berbicara di depan para peserta, termasuk Presiden Amerika Serikat Joe Biden.

Jelas pertemuan dan komitmen bersama tersebut mendapat sambutan dari banyak pihak.
Namun, tak sedikit juga yang menyatakan pesimistis dengan komitmen para petinggi negara tersebut. Bahkan, ada pula yang mengkritik dan mencibir acara tersebut sia-sia saja.

Tentu banyak yang masih ingat dengan mantan Presiden AS Donald Trump. Dia dengan lantang keluar dari Paris Agreement. Beberapa waktu lalu, pengusaha top itu bahkan menyatakan Presiden Joe Biden sia-sia datang ke KTT Iklim tersebut. Trump menyatakan pertemuan tersebut sebagai kegiatan yang tak berguna.

energi terbarukan di arab saudi

“Bahkan Biden tidak tahan mendengar begitu banyak Hoax Pemanasan Global, Hoax terbesar ke-7 di Amerika,” canda Trump dalam sebuah email, setelah melihat gambar Biden yang tertidur saat mengikuti KTT Iklim COP26 tersebut.

Pernyataan Trump bila dipikir-pikir memang ada benarnya juga. Banyak negara memasang target dekarbonisasi dan bertekad meninggalkan penggunaan energi berbasis fosil. Tapi, kenyataannya banyak yang sekadar retorika. Itu juga yang menjadi alasan Amerika Serikat di bawah kendali Trump saat itu menarik diri dari perjanjian Iklim Paris.

Lalu, terkait dengan isu dekarbonisasi ini, seperti apa sebenarnya tren emisi karbon yang terjadi hingga kini? Apakah memang alam, lingkungan, dan atmosfer bertambah kotor?

Berdasarkan laporan Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) terkini yang terbit beberapa bulan lalu, emisi karbon dioksida (CO2) terkait dengan energi global akan melonjak 1,5 miliar ton pada 2021. Ini bakal menjadi peningkatan terbesar kedua dalam sejarah dan membalikkan sebagian besar penurunan yang pernah terjadi pada tahun 2020 lalu.

Emisi sempat turun pada 2020 saat pandemi Covid-19 sedang berada pada titik tertinggi. Emisi pada 2021 akan menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak 2010.

Tinjauan Energi Global IEA 2021 memperkirakan emisi CO2 akan meningkat hampir 5,0% tahun ini menjadi 33 miliar ton. IEA melakukan prediksi ini berdasarkan data nasional terbaru dari seluruh dunia serta analisis real-time tren pertumbuhan ekonomi dan proyek energi baru.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan, penggerak utama kenaikan emisi adalah permintaan batu bara, yang diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,5% pada 2021, melampaui level 2019 dan mendekati puncaknya sepanjang masa dari 2014. Sektor kelistrikan menyumbang tiga perempat dari peningkatan emisi ini.

“Emisi karbon global akan melonjak 1,5 miliar ton tahun ini – didorong oleh kebangkitan penggunaan batu bara di sektor listrik. Ini adalah peringatan yang mengerikan bahwa pemulihan ekonomi dari krisis Covid saat ini sama sekali tidak berkelanjutan untuk iklim kita,” kata Birol, seperti dilansir laman IEA.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *