by

Skenario Terburuk Bila Lockdown

-Ekobis-221 Views

By Roby Argo

SELISIK.COM – Situasi dan kondisi di Indonesia masih belum menentu. Ada banyak skenario bila pandemi Covid-19 terus meluas ke seluruh wilayah Tanah Air.

Bisa jadi pemerintah kembali melakukan lockdown atau PSBB. Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban sudah meminta pemerintah mengganti istilah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro menjadi lockdown alias kekarantinaan wilayah. Alasannya, saatnya pemerintah pusat dan daerah tegas untuk menyesuaikan regulasi mengingat lonjakan kasus positif virus corona sudah membuat keterisian tempat tidur di rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) melonjak.

“Didasari melonjaknya kasus covid-19 dan rawat inap, saya merasa Indonesia butuh istilah baru sebagai ganti PPKM Mikro,” ungkapnya. “Saya rekomendasikan kata lockdown saja agar monitoringnya lebih tegas dan lebih serius, meski isi konten kebijakannya tidak jauh beda dengan PPKM,” ungkap Zubairi melalui akun Twitter miliknya @ProfesorZubairi, Selasa (13/6/2021) lalu.

Baca juga  Kemenperin Optimalkan Anggaran Demi Pemulihan Ekonomi Melalui Fokus Tiga Isu

Ide serupa muncul dari epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko. Dia menilai karantina wilayah harus dilakukan bukan semata karena peningkatan kasus melainkan karena merebaknya penemuan varian baru virus corona, di antaranya varian B117 Alfa, B1351 Beta, dan B1617.2 Delta. Kebijakan lockdown sudah dilakukan negara-negara lain dalam menghadapi keempat varian tersebut. Malaysia dan Singapura sudah lebih dulu melakukannya.

Miko menjelaskan varian Beta dan Alfa bisa lebih berbahaya dan menular dari varian aslinya. Varian itu dapat mengancam kondisi kesehatan masyarakat Indonesia. “Percayalah kalau kita perang dengan musuh baru yang penularannya lebih hebat dari varian aslinya, case fatality-nya lebih hebat. Kemudian, severity-nya lebih baik. Kita akan diserang dengan baik oleh varian itu,” ucap dia.

Pihak lain ragu
Meski demikian, sejumlah pihak meragukan keberanian pemerintah melakukan lockdown. Mengapa? Dampak lockdown akan lebih besar dibandingkan langkah sebelumnya. Dampaknya bisa sangat buruk bagi perekenomian. Terlebih, pemerintah punya target cukup ambisius di tahun ini, yakni pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 persen hingga 5,5 persen.

Baca juga  Kredit Bank Jago Naik 695 Persen

Lockdown, menurut Kepala Departemen Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri, ibarat obat keras yang punya efek samping. Memang dampaknya bagus untuk menekan penyebaran virus. Perekonomian yang jadi korban. Skenario terburuk dari kebijakan pengetatan tersebut adalah melesetnya proyeksi pertumbuhan ekonomi pemerintah yang pasti juga akan diikuti pertambahan jumlah pengangguran dan angka kemiskinan baru.

Beban APBN sudah terlampau berat untuk dapat menggelontorkan anggaran besar sebagai jaring pengaman sosial. Pemerintah juga punya komitmen disiplin fiskal demi menurunkan defisit kembali ke bawah tiga persen pada 2023. Lockdown sampai selama sebulan saja bisa meningkatkan kemiskinan di atas 500 ribu orang atau setengah dari penambahan penduduk miskin pada periode Maret-September 2020 yang mencapai 1,13 juta orang. *

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.