by

Tertinggi Sejak 2014, Harga Minyak Tembus US$ 90 per Barel

-Energi-157 Views

By Khanzalani

SELISIK.COM – Siap-siap! Mungkin dalam beberapa hari ke depan bakal ada kebijakan di sektor energi.

Ada banyak faktor yang bisa memengaruhinya. Efek paling langsung adalah terjadinya kenaikan harga minyak mentah dunia. Tercatat harga minyak mentah global naik mencapai level US$ 90 per barel. Kenaikan ini tertinggi pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir. Pemicu utamanya diperkirakan karena ketatnya pasokan dan meningkatnya ketegangan politik antara Rusia dan Ukraina.

Harga minyak mentah jenis Brent pada perdagangan Rabu (26/1/2022) ditutup pada level US$ 89,96 per barel, naik US$ 1,76 setelah sempat melampaui angka US$ 90 untuk pertama kalinya sejak Oktober 2014. Khusus untuk tipe West Texas Intermediate (WTI) naik sebesar US$ 1,75 menjadi US$ 87,35 per barel.

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina dipastikan bisa menimbulkan efek panas secara global. Maklum saja, keduanya termasuk pemasok utama minyak dan gas (migas). Rusia bahkan dilaporkan telah mengumpulkan ribuan pasukannya di perbatasan Ukraina sehingga memicu kekhawatiran pasar.

Banyak yang khawatir bakal terjadi invasi Rusia terhadap Ukraina. Tentu saja pasar global khawatir konflik ini bisa mengganggu pasokan gas Rusia ke banyak wilayah di Eropa.

Selain pengekspor gas ke negara-negara Eropa Barat, Rusia juga menjadi salah satu negara pengekspor minyak terbesar dunia. Permainan Rusia beberapa waktu lalu dalam menjual gas sempat membuat banyak negara kelimpungan mengelola pasokan energi listrik.

Baca juga  Pertamina Patra Niaga Dorong Penggunaan Energi yang Lebih Baik

Pasar terbukti merasa gelisah dengan pasokan migas yang sewaktu-waktu bisa saja terganggu. Kemungkinan besar pasokan energi akan berlanjut. “Tapi risikonya tak dapat diabaikan sesuatu dapat mengganggu keseimbangan pasar,” ungkap kepala penasihat dan analis geopolitik di S&P Global Platts, Paul Sheldon, Kamis (27/1/2022).

Amerika Serikat pun buru-buru ambil sikap dan mewaspadai kemungkinan yang bakal terjadi. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Tony Blinken menyatakan, AS akan memastikan pasokan energi global tak terganggu bila Rusia mengambil tindakan ekstrem.

Presiden Joe Biden juga sudah angkat bicara terkait dengan sinyal perseteruan Rusia dan Ukraina. Biden mengemukakan sedang mempertimbangkan sanksi pribadi terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin bila Rusia benar-benar mengambil tindakan menginvasi Ukraina.

Masalah bisa makin pelik karena di benua lain juga terjadi konflik yang bisa memicu gangguan rantai pasokan minyak global. Gerakan Houthi Yaman, misalnya, telah meluncurkan serangan rudal ke pangkalan Uni Emirat Arab pada Senin (24/1/2022). Langkah mereka tentu berpotensi mengganggu pasokan dan mendongkrak harga minyak internasional.

Di sisi lain, OPEC+ juga mengalami kesulitan memenuhi target produksi bulanan stelah berusaha memulihkan pasokan ke pasar akibat pemotongan drastis pada 2020 lalu. Pada saat yang sama, AS ternyata kekurangan lebih dari satu juta barel dari rekor tingkat produksi hariannya. “Satu-satunya organisasi yang dapat mengubah arah harga sekarang adalah OPEC,” jelas Claudio Galimberti, wakil presiden senior analisis di Rystad Energy.

Baca juga  PHR dan PNRE Groundbreaking Pembangunan PLTS Berkapasitas 25 MW

Permintaan terhadap komoditas minyak terbukti tetap kuat. Ini menunjukkan persediaan bisa saja merosot lebih lanjut. Anggota OPEC+ sudah bertemu pada 2 Februari 2021 lalu untuk mempertimbangkan peningkatan produksi lainnya untuk mengendalikan harga minyak.

Di Amerika Serikat, persediaan minyak naik dalam beberapa pekan terakhir. Stok minyak mentah naik 2,4 juta barel, melawan ekspektasi penurunan moderat. Persediaan bensin naik ke level tertinggi dalam hampir satu tahun.

Khusus pasokan produk minyak olahan yang bisa menjadi ukuran permintaan, telah melampaui tingkat prapandemi ke rata-rata empat pekan pada level 21,2 juta barel per hari. Kenaikan ini didorong peningkatan konsumsi produk solar karena penggunaan bensin telah melemah dalam beberapa pekan terakhir.

Masalah global tampaknya makin kompleks. Pandemi Covid-19 saja belum usai. Banyak negara belum terlepas dari jerat virus yang mematikan tersebut.

Kini harga minyak telah mengalami rally kuat pada pekan-pekan awal 2022. Padahal sempat muncul keyakinan untuk meraih pemulihan ekonomi.

Bila tak terkendali, ekonomi global juga bakal terpengaruh. Lonjakan yang berkelanjutan bisa memicu tekanan inflasi di seluruh dunia. Yang patut dicermati juga, Bank Sentral AS (Federal Reserve/the Fed) telah mengisyaratkan bakal menaikkan suku bunga mulai Maret 2022 mendatang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed