by

Vaksin Johnson & Johnson Klaim Ampuh Lawan Corona

-Kesehatan-452 Views

By Zahra

SELISIK.COM – Uji terhadap efektivitas vaksin terus dilakukan. Pembuat vaksin Johnson & Johnson juga terus melakukan uji untuk mengetahui kemampuan vaksin tersebut.

Berdasarkan uji klinis di Afrika Selatan, vaksin Johnson & Johnson dinilai efektif mencegah keparahan serta kematian akibat virus Corona varian Beta dan Delta. Bahkan, mereka mengklaim hanya dalam satu dosis suntikan saja alias tanpa suntikan tambahan (booster).

Tentu hasil ini cukup mencengangkan. Ini adalah tes nyata pertama di dunia atas kemanjuran vaksin terhadap Delta, varian virus yang sangat menular dan melonjak penyebarannya di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Kementerian Kesehatan Afrika Selatan melaporkan hasil awal ini pada konferensi pers pada hari Jumat (6/7/2021). Tapi, data tersebut belum ditinjau atau dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

Dalam sebuah uji coba yang disebut Sisonke, para peneliti mengevaluasi satu dosis vaksin Johnson & Johnson terhadap 500.000 petugas kesehatan yang berisiko tinggi terpapar Covid-19. Vaksin tersebut memiliki kemanjuran hingga 95 persen terhadap kematian akibat varian Delta dan hingga 71 persen terhadap rawat inap.

“Kami percaya vaksin ini melakukan apa yang dirancang untuk dilakukan, yaitu menghentikan orang pergi ke rumah sakit dan menghentikan mereka berakhir di ICU dan sekarat,” ungkap Dr Linda-Gail Bekker, co-lead studi dan direktur Desmond Tutu HIV Center di Universitas Cape Town, seperti dilaporkan The New York Times. “Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang telah menerima satu dosis vaksin Johnson & Johnson tidak memerlukan suntikan booster.”

Baca juga  Penumpang Transjakarta Wajib Tunjukkan Sertifikat Vaksin

Peneliti menemukan pada sukarelawan yang divaksinasi muncul kasus gejala ringan 96 persen, sementara yang mengakibatkan penyakit parah atau kematian kurang dari 0,05 persen. Hasil uji ini tentu berita gembira bagi jutaan orang yang telah menerima vaksin Johnson & Johnson. Ini karena beberapa penelitian sebelumnya telah menyebutkan satu suntikan mungkin rentan terhadap Delta sehingga perlu booster.

Kabar itu membuat beberapa penerima vaksin Johnson & Johnson mencari dosis kedua sendiri. Pejabat kesehatan di San Francisco bahkan menawarkan penduduk yang diimunisasi Johnson & Johnson dosis dengan tambahan vaksin Pfizer-BioNTech atau Moderna.

“Penelitian ini dilakukan sebagai studi kemanjuran dunia nyata di salah satu rangkaian epidemiologi yang paling menantang,” ujar Dr Dan Barouch, ahli virologi di Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston yang telah memimpin beberapa penelitian untuk J. & J. “Ini berita yang sangat baik untuk perang melawan pandemi global Covid-19.”

Afrika Selatan menyetujui vaksin Johnson & Johnson pada April 2021. Seperti Indonesia, negara ini juga berjuang melawan lonjakan varian Delta dalam beberapa pekan terakhir. Lebih dari 8,0 juta orang Afrika Selatan telah menerima vaksin Johnson & Johnson atau setidaknya satu dosis vaksin Pfizer.

Moderna klam ampuh
Moderna mengumumkan pada hari Kamis, 5 Agustus 2021, waktu setempat bahwa vaksinnya terhadap virus corona tidak berkurang enam bulan setelah dosis kedua.

Baca juga  Presiden Targetkan Vaksinasi Covid-19 Capai 5 Juta Dosis Sehari

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis sebelum pengumuman kinerja perusahaan, termasuk memaparkan pendapatannya, Moderna mengatakan kemanjuran 93% vaksinnya tetap tahan lama hingga enam bulan setelah dosis kedua.

Moderna mengatakan, vaksinnya 93% efektif enam bulan kemudian. Perusahaan juga mengumumkan bahwa kandidat dalam studi fase dua yang menguji suntikan booster menghasilkan respons antibodi yang kuat terhadap varian COVID-19 yang menjadi perhatian.

Ini tentu kabar baik karena varian Delta yang sangat menular dari virus corona menyebabkan kasus dan rawat inap melonjak. Bahkan, beberapa negara sedang bereksperimen dengan suntikan booster untuk melengkapi perlindungan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Rabu menyerukan moratorium tiga bulan pada dosis booster, mendesak fokus pada vaksinasi 10% orang di semua negara.

Pengumuman Moderna, bagaimanapun, tidak memiliki rincian ilmiah, seperti kapan data dikumpulkan. Termasuk jika terlihat kemanjuran tetap ada bahkan ketika delta menjadi strain dominan di AS.

Pfizer mengumumkan bulan lalu bahwa kemanjuran vaksinnya terhadap COVID-19 menurun setelah enam bulan. Sebuah studi menunjukkan bahwa kemanjuran vaksin menurun rata-rata 6% setiap dua bulan, turun dari 96% menjadi 84% enam bulan setelah inokulasi.

Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa vaksin tersebut terus menawarkan perlindungan enam bulan kemudian. Selain itu, vaksin tetap sangat efektif dalam mencegah rawat inap, sebesar 97%.

Seperti Moderna, Pfizer juga mengumumkan bahwa suntikan ketiga vaksinnya dapat sangat meningkatkan perlindungan terhadap strain Delta.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *